Apa yang Dikatakan Yano Ketika Bersama Yoshida di Lantai Paling Atas Sekolah
Hari itu cuaca cerah, angin bertiup lembut, dan sekolah tampak tenang dari lantai paling atas. Yano dan Yoshida memutuskan untuk menghabiskan waktu sebentar di atap sekolah, jauh dari keramaian teman-teman mereka. Tempat itu selalu menjadi favorit mereka, karena selain sejuk, juga memberikan rasa kebebasan dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Yoshida tampak sedikit canggung, matanya menatap ke jauh sambil sesekali tersenyum malu. Yano, dengan sifatnya yang tenang namun tajam dalam membaca situasi, segera menyadari perasaan Yoshida. Dia bisa merasakan detak jantung Yoshida yang sedikit lebih cepat, dan rona merah yang muncul di pipinya.
“Yoshida…” Yano memulai, suaranya lembut namun tegas, membuat Yoshida menoleh dengan cepat. “Aku senang kita bisa berada di sini berdua, jauh dari semuanya.”
Kata-kata Yano terdengar sederhana, namun bagi Yoshida, itu seperti musik yang menenangkan hati. Ia merasa ada kehangatan yang mengalir dari ucapan Yano, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Yoshida hanya bisa tersenyum malu dan mengangguk pelan, mencoba menahan rasa gugupnya.
Yano melanjutkan, “Aku ingin kau tahu… aku selalu memperhatikanmu. Bahkan hal-hal kecil yang mungkin kau pikir tidak ada yang melihat, aku perhatikan semuanya.”
Mendengar itu, Yoshida merasakan jantungnya seperti ingin melompat keluar. Kata-kata Yano yang tulus membuatnya tersipu, tapi juga senang. Ia tidak pernah menyangka Yano akan berkata seperti itu. Di momen ini, lantai paling atas sekolah menjadi saksi dari kejujuran dan rasa nyaman mereka satu sama lain.
Yano menoleh, menatap langsung ke mata Yoshida. “Kau itu spesial, Yoshida. Bukan hanya karena kebaikanmu, tapi juga karena caramu membuat orang di sekitarmu merasa nyaman.”
Yoshida menunduk, pipinya semakin memerah. Namun ia juga merasa lega, karena kini ia tahu perasaan Yano bukan sekadar kata-kata biasa. Semua yang diucapkan Yano datang dari hati, membuat suasana di lantai paling atas terasa begitu hangat dan intim.
“Aku… aku juga senang bisa berada di sini bersamamu,” Yoshida akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menjawab, suaranya lembut namun sedikit bergetar.
Yano tersenyum, lalu menunjuk ke langit biru di atas mereka. “Lihatlah, langit hari ini secerah hatiku ketika bersamamu. Aku ingin kita selalu bisa momen seperti ini, di mana kita bisa menjadi diri sendiri, tanpa harus pura-pura atau takut.”
Momen itu seketika membuat Yoshida semakin tersipu. Kata-kata Yano seperti membuat waktu berhenti sejenak. Mereka duduk di tepi atap, kaki menggantung, menikmati angin yang lembut sambil saling bertukar pandang. Tak perlu kata-kata panjang, karena keheningan di antara mereka sudah cukup untuk merasakan kedekatan yang luar biasa.
Yano kemudian menambahkan sesuatu yang membuat hati Yoshida meleleh, frasa yang akan selalu ia ingat. “Yoshida, aku… aku suka caramu tersenyum. Setiap kali kau tersenyum, rasanya dunia ini lebih indah.”
Mendengar itu, Yoshida menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menahan rasa malu, namun di dalam hatinya ia merasa sangat bahagia. Perasaan yang selama ini ia pendam, kini mulai muncul ke permukaan, dan momen di lantai paling atas menjadi saksi dari awal kebahagiaan mereka berdua.
Seiring matahari perlahan mulai turun, mereka tetap duduk bersama. Yano dan Yoshida berbagi cerita, tawa kecil, hingga saling memahami perasaan masing-masing. Kata-kata Yano bukan hanya sekadar pujian, tetapi juga pengakuan yang tulus, membuat Yoshida merasa aman dan diterima apa adanya



